Setelah Penjual Es Teh, Video Lama Miftah Maulana Sindir Profesi Dokter Viral di Medsos
Nama Miftah Maulana kembali jadi sorotan di media sosial. Setelah sebelumnya menuai kecaman karena pernyataannya kepada penjual es teh, kini sebuah video lama yang memperlihatkan dirinya diduga menyindir profesi dokter ikut ramai dibicarakan warganet. Potongan video tersebut menyebar cepat dan memantik reaksi keras, terutama dari kalangan tenaga kesehatan yang merasa profesinya kembali dijadikan bahan olok-olok.
Respons dokter dan warganet menguat
Sejumlah akun media sosial dokter yang terverifikasi ikut menanggapi video itu. Komentar yang muncul umumnya bernada kritik, termasuk penjelasan bahwa dokter memang perlu bertanya detail soal kondisi pasien karena bukan cenayang. Ada pula yang menambahkan emoji sedih sebagai tanda kecewa terhadap isi ucapan yang dianggap merendahkan profesi medis.
Di sisi lain, warganet menilai viralnya video lama tersebut seperti membuka kembali jejak digital yang selama ini tertinggal. Banyak yang mengaitkannya dengan peristiwa sebelumnya, ketika Miftah lebih dulu dikritik karena mengolok-olok penjual es teh. Menurut mereka, rangkaian peristiwa itu membuat publik semakin mudah menilai karakter sang pendakwah dari rekam jejak ucapannya di ruang digital.
Jejak digital yang tak mudah hilang
Reaksi publik di kolom komentar juga memperlihatkan nada kecewa yang makin tajam. Sebagian warganet menyebut sikap dan pilihan kata yang terekam di video lama itu menunjukkan watak sebenarnya. Ada yang menuliskan bahwa “aib” sang pendakwah seolah terbuka satu per satu, sementara yang lain menegaskan bahwa jejak digital memang sulit dihapus dan mudah kembali muncul saat situasi memanas.
Tak sedikit pula komentar yang menyoroti gaya bahasa yang digunakan. Salah satu warganet menyinggung kosakata yang dianggap terbatas dan menyebut hanya kata kasar yang berulang muncul. Dari percakapan di media sosial, isu ini tampak tidak lagi sekadar soal video lama, melainkan sudah berkembang menjadi perdebatan lebih luas tentang adab berbicara, tanggung jawab publik figur, dan sensitivitas terhadap profesi lain.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
