Kriminal

Rumah Tidak Dapat, Uang Ratusan Juta Milik Wanita Cantik Ini Malah Raib Digelapkan Vendor

Uang Ratusan Juta Melayang, Fatmawati Mengaku Jadi Korban Dugaan Penggelapan Vendor Rumah

Jakarta — Harapan Fatmawati (31) untuk segera memiliki rumah di Jakarta justru berujung pahit. Uang muka ratusan juta rupiah yang sudah ia serahkan kepada vendor rumah diduga raib, sementara unit yang dijanjikan tak kunjung berdiri. Kasus ini kini menyeret nama pihak vendor dan telah dilaporkan ke kepolisian, namun hingga berbulan-bulan kemudian belum menunjukkan perkembangan berarti.

Janji Rumah, DP Rp300 Juta, dan Proyek yang Mandek

Fatmawati mengatakan, ia awalnya sepakat membeli rumah yang ditawarkan pihak vendor dengan total nilai Rp1,1 miliar. Dari kesepakatan itu, ia telah menyetor uang muka atau down payment sebesar Rp300 juta untuk rumah yang berlokasi di Jalan Pagelarang, Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.

Namun, menurut pengakuannya, proses pembangunan tak berjalan sebagaimana dijanjikan. Setelah satu tahun berlalu, proyek justru mandek. Ia juga menyebut ada janji pengembalian dana DP, tetapi hingga kini tak pernah dipenuhi.

Kompensasi Rp198 Juta Tak Dibayar

Tak berhenti di situ, Fatmawati juga menyinggung soal kompensasi Rp198 juta yang semestinya dibayarkan vendor jika rumah belum berdiri dalam waktu tiga bulan. Lagi-lagi, kewajiban itu disebut tak dijalankan.

“Masalah semakin rumit, karena pihak vendor yang selalu berkelit ketika ditagih janjinya,” kata Fatmawati, Kamis, 19 Desember 2024.

Ia mengaku sudah berkali-kali mencoba meminta kejelasan, tetapi respons yang diterima tak kunjung memberikan solusi. Uang yang sudah keluar besar, sementara rumah yang diimpikan tak pernah selesai.

Lapor Polisi, Lalu Mengaku Diteror

Karena merasa dirugikan, Fatmawati akhirnya melapor ke Polsek Cipayung. Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/392/VIII/2024/SPKT/POLSEK CIPAYUNG/POLRES METRO JAKTIM/POLDA METRO JAYA pada 6 Agustus 2024.

Sesudah laporan dibuat, ia mengaku justru menerima ancaman dari terlapor melalui pesan WhatsApp. Menurutnya, ancaman itu disampaikan secara verbal dan bahkan menyasar keluarganya.

“Developer mengancam dan keluarga akan menghancurkan keluarga saya. Karena tidak terima perlakukan kami seperti melapor dan lain-lain,” ujarnya.

Fatmawati juga menyebut keluarganya sempat merasakan sejumlah hal yang menurutnya janggal, termasuk percobaan hipnotis dan dugaan ancaman tak kasat mata. Ia bahkan mengatakan pernah ada permintaan maaf dari pihak developer pada Januari terkait tindakan yang ia sebut sebagai hal gaib agar dirinya menurut seperti terhipnotis.

Kasus Belum Tuntas, Fatmawati Mengadu ke Lapor Mas Wapres

Meski laporan sudah berjalan sekitar empat bulan, Fatmawati menilai belum ada kemajuan signifikan. Ia mengaku mendapat informasi dari kepolisian bahwa pihak vendor bernama Taufan telah kabur dan tidak diketahui keberadaannya. Beberapa kali panggilan penyidik juga disebut tak dihadiri.

“Terakhir dicari, kata polisi Taufan kabur, gak tahu kemana. Sampai sekarang masih nunggu dari polisi,” katanya.

Merasa jalur yang ditempuh belum membuahkan hasil, Fatmawati kemudian mengadukan kasus ini ke layanan Lapor Mas Wapres milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan nomor tercetak #8473526. Ia berharap ada dorongan agar penanganan perkara dugaan penipuan atau penggelapan tersebut bisa segera dituntaskan.

“Harapan saya kepada tim dari Wakil Presiden dapat membantu permasalahan yang sedang dihadapi pelapor dengan mendorong pihak kepolisian untuk segera menyelesaikan kasus penipuan atau penggelapan tersebut,” kata dia.

Ia menegaskan, seluruh upaya sudah ditempuh, termasuk melapor ke Polsek Cipayung Jakarta Timur, tetapi pelaku dua kali mangkir dalam pemeriksaan konfrontir dan hingga kini masih sulit ditemukan.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.