Suaraberita.biz - Berita Terbaru Hari Ini
Portal berita online yang menyajikan update terbaru seputar kriminal, tekno, otomotif, olahraga, kesehatan, wisata, gaya hidup, dan crypto
Berita

Kampanye Tanpa Asap Rokok ke Pelosok Negeri

31 May 2025 • 19:46 WIB

Kampanye Tanpa Asap Rokok ke Pelosok Negeri

Asap rokok sering dianggap urusan pribadi, padahal dampaknya kerap menyapu satu rumah sekaligus. Pesan itulah yang ditegaskan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bersama Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) saat memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2025 di GBK, Jakarta, Sabtu, 31 Mei 2025. Mengusung tema “Yang Ngerokok Kamu, Yang Sakit Serumah!”, kampanye ini diarahkan untuk menggugah kesadaran publik bahwa bahaya tembakau tidak berhenti pada perokok aktif, tetapi juga mengancam keluarga yang tinggal serumah.

Peringatan yang Menyasar Keluarga, Bukan Hanya Perokok

Ketua Umum YKI, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, menilai kampanye ini penting untuk menegaskan kembali bahwa rokok dan vape membawa risiko luas bagi kesehatan. Ia mengingatkan, Indonesia masih berada di peringkat kelima negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia, dengan angka 38,7 persen menurut World Population Review pada April 2025. Menurutnya, kondisi itu merupakan sinyal yang tidak bisa diabaikan.

“Indonesia masih berada di peringkat kelima negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia, yaitu 38,7% menurut World Population Review, April 2025. Ini alarm serius,” ujar Prof. Aru.

Lebih dari 300 Peserta Ikut Sosialisasi

Kegiatan sosialisasi HTTS 2025 di GBK dan SPARK diikuti lebih dari 300 penggiat olahraga dan warga. Mereka diajak melihat bahwa asap rokok bukan hanya persoalan kebiasaan, melainkan ancaman kesehatan yang bisa masuk ke ruang keluarga dan menyerang kelompok rentan, termasuk anak-anak.

Ketua Panitia HTTS 2025 YKI, Murniati Widodo AS, menegaskan bahwa perokok pasif memiliki risiko tinggi terhadap kanker paru dan berbagai penyakit kronis lain. Ia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sehat, dimulai dari rumah.

“Kami mengajak masyarakat untuk berhenti merokok dan menciptakan lingkungan sehat, karena satu orang merokok, satu rumah bisa sakit,” tegasnya.

POI: Berhenti Merokok Adalah Investasi Jangka Panjang

Ketua POI Pusat, Dr. dr. Cosphiadi Irawan, menyebut Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2025 sebagai momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen nasional dalam menghadapi epidemi tembakau. Ia menegaskan bahwa tembakau merupakan penyebab utama berbagai jenis kanker, dan setiap langkah untuk berhenti merokok adalah keputusan yang berdampak panjang bagi kesehatan.

“Tembakau adalah penyebab utama berbagai jenis kanker. Setiap hisapan rokok menjauhkan kita dari hidup sehat, dan setiap langkah berhenti merokok adalah investasi jangka panjang untuk masa depan,” tuturnya.

Data Kementerian Kesehatan RI per Mei 2024 menunjukkan jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 70 juta orang, dengan 7,4 persen di antaranya adalah anak usia 10–18 tahun. Di sisi lain, satu batang rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, termasuk 70 zat karsinogenik yang dapat memicu kanker, penyakit jantung, hingga gangguan pernapasan kronis.

Kampanye Menyebar ke Ruang Publik

Untuk memperluas jangkauan pesan, YKI dan POI menggelar sejumlah kegiatan edukatif. Video kampanye ditayangkan di videotron Benhil Penjernihan, Graha Mandiri, SCBD, dan Wisma Kemang, serta dibagikan melalui akun Instagram @yayasankankerid. Di kantor pusat YKI kawasan Menteng, banner edukatif juga dipasang di gerbang utama sebagai pengingat langsung bagi masyarakat yang melintas.

Kampanye ini turut diperkuat dengan distribusi souvenir edukatif berupa gantungan kunci dan kartu eMoney bertema stop merokok. Selain itu, booth dan spanduk ditempatkan di lokasi strategis seperti GBK, SPARK, dan sejumlah area publik lain agar pesan hidup tanpa asap rokok menjangkau lebih banyak orang.

YKI berharap gerakan ini tidak berhenti pada seremonial tahunan, melainkan mendorong perubahan perilaku yang nyata. “Berhenti merokok akan meningkatkan kualitas hidup, mengurangi risiko kanker, dan memperkuat daya tahan tubuh,” kata Murniati Widodo AS.

POI juga menekankan bahwa upaya menekan bahaya tembakau membutuhkan kerja bersama, mulai dari tenaga medis, masyarakat, hingga pembuat kebijakan, agar Indonesia perlahan bergerak menuju lingkungan yang lebih aman bagi keluarga.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.