Bulu Baria: Gunung Terbersih Kedua di Indonesia, Siapa yang Pertama?

Bulu Baria: Gunung Terbersih Kedua di Indonesia, Siapa yang Pertama?
Di tengah maraknya persoalan sampah di jalur pendakian, Gunung Bulu Baria di Sulawesi Selatan justru muncul dengan pendekatan yang tegas: pendaki tidak bisa lagi membawa pola lama ke gunung. Pengelola basecamp setempat menerapkan aturan ketat agar setiap orang yang naik ikut menjaga kebersihan sejak awal perjalanan. Langkah ini membuat Bulu Baria disebut sebagai gunung terbersih kedua di Indonesia, mengikuti jejak konsep serupa yang lebih dulu dikenal di Gunung Kembang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Gunung Kembang Jadi Acuan Zero Waste Mountain
Gunung Kembang dikenal sebagai gunung pertama yang mendapat predikat gunung terbersih di Indonesia lewat konsep Zero Waste Mountain. Di sana, manajemen perbekalan pendaki diatur dengan sangat ketat, termasuk larangan membawa sampah plastik naik ke puncak. Aturan itu bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari sistem yang menjaga ekosistem jalur pendakian tetap bersih dan terawat.
Model pengelolaan semacam ini kemudian menjadi rujukan bagi gunung lain, termasuk Bulu Baria. Pendekatan yang menekankan tanggung jawab pendaki sejak sebelum trekking dimulai dinilai jauh lebih efektif dibanding sekadar mengandalkan imbauan saat di jalur.
Aturan Baru di Bulu Baria
Pengelola basecamp Gunung Bulu Baria, Musta’in, menyebut aturan berbasis teks menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan baru di kalangan pendaki. Setiap orang yang datang wajib memindahkan perbekalan ke wadah yang sudah disiapkan pengelola. Dengan begitu, kemasan sekali pakai yang berpotensi menjadi sampah tidak ikut naik ke area pendakian.
Selain itu, pendaki juga diwajibkan membawa kembali seluruh sampah sekali pakai saat turun. Pola ini menegaskan bahwa kebersihan gunung bukan hanya urusan petugas atau relawan, tetapi tanggung jawab bersama sejak dari basecamp hingga kembali pulang.
Dukungan untuk Gerakan Bersih Gunung
Upaya Zero Waste Mountain di Bulu Baria turut mendapat dukungan dari Eiger Adventure Service Team. Mereka menilai inovasi yang diterapkan pengelola memiliki dampak positif, bukan hanya bagi kelestarian alam, tetapi juga bagi manusia yang menikmati jalur pendakian yang lebih sehat dan tertib.
Semangat seperti ini diharapkan tidak berhenti di dua gunung tersebut saja. Jika pola serupa diterapkan lebih luas, kualitas lingkungan di kawasan pendakian Indonesia berpeluang terjaga lebih baik, sekaligus membentuk budaya baru: mendaki tanpa meninggalkan jejak sampah.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.



