Pendidikan gizi penting untuk mengajarkan anak pola makan bergizi seimbang sejak dini. Dr. dr. Tan Shot Yen, M.hum, seorang dokter dan Ahli Gizi Masyarakat, menekankan pentingnya memberi contoh sebagai orang tua agar anak bisa mempraktikkan pola makan yang sehat. Mulai dari MPASI, orang tua dapat memperkenalkan kebiasaan makan bersama keluarga sebagai langkah awal. Pola makan anak harus disesuaikan dengan pedoman “Isi Piringku” Kementerian Kesehatan, tergantung pada usia dan tahapan pertumbuhannya.
Saat anak berusia 6-8 bulan, penting untuk menyajikan MPASI dengan lauk hewani, makanan pokok, lemak, serta tekstur yang sesuai. Saat anak tumbuh menjadi balita usia 2-5 tahun, variasi makanan seperti sayur, buah, dan lauk nabati bisa ditambahkan. Melibatkan anak dalam proses memasak keluarga juga bisa membantu mereka memahami nilai gizi dari makanan sejak dini.
Orang tua juga harus memberikan contoh dengan tidak sering membeli makanan junk food. Melalui kebiasaan yang konsisten, anak akan belajar mengenali jenis pangan yang bergizi untuk mendukung perkembangannya. Pendidikan gizi di rumah sangat penting dan akan menjadi dasar yang kuat bagi pola makan sehat anak. Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah berupaya menyebarkan edukasi gizi melalui berbagai media termasuk podcast dan video edukasi di YouTube.
Untuk mengoptimalkan Program Makan Bergizi Gratis, BGN menyarankan agar pendidikan gizi juga dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Hal ini sejalan dengan usaha Dewan Pakar Bidang Gizi BGN untuk menyentuh seluruh lapisan masyarakat melalui edukasi gizi yang komprehensif. Selain itu, memberikan pendidikan gizi pada anak tidak hanya mencakup aspek konsumsi makanan yang tepat, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai tidak boros dalam konsumsi makanan. Itulah mengapa program makan bergizi gratis dinilai efektif dalam meningkatkan asupan gizi siswa di Jakarta Pusat.
