Kenapa Banyak Pasangan Muda Hanya Punya 1 Anak?
Di banyak keluarga muda, keputusan soal jumlah anak kini makin sering ditentukan oleh hitung-hitungan yang sangat realistis. Bagi pasangan seperti Ria (36) dan suaminya di Bogor, Jawa Barat, memiliki satu anak dianggap lebih masuk akal dibanding menambah tanggungan di tengah biaya hidup yang terus naik. Pilihan ini bukan semata soal keinginan, melainkan juga soal kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan, pengasuhan, dan masa depan pendidikan anak.
Tekanan Ekonomi Jadi Pertimbangan Utama
Biaya sekolah yang kian tinggi, kebutuhan pengasuh, hingga pengeluaran harian membuat banyak pasangan muda menahan diri untuk tidak menambah anak. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN, Boni, menyebut banyak pasangan sebenarnya masih ingin memiliki lebih dari satu anak, tetapi kondisi ekonomi kerap membuat rencana itu tertunda atau bahkan dibatalkan.
Dalam situasi seperti ini, satu anak dipandang lebih mudah dikelola. Orang tua bisa fokus pada kebutuhan dasar, pendidikan, dan pengasuhan tanpa terlalu terbebani secara finansial. Pilihan tersebut juga mencerminkan perubahan cara pandang keluarga muda terhadap perencanaan hidup.
Angka Kelahiran di Sejumlah Wilayah Turun
Fenomena ini juga terlihat dari data angka fertilitas total atau TFR di sejumlah wilayah penyangga Jakarta. Di Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok, dan Bekasi, angka TFR disebut berada di bawah 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa rata-rata jumlah anak yang dilahirkan perempuan usia subur di wilayah-wilayah tersebut sudah berada di bawah tingkat penggantian penduduk.
Data itu memperlihatkan bahwa keputusan untuk memiliki satu anak bukan kasus terpisah. Pola serupa tampak di banyak keluarga muda yang menimbang ulang rencana berkeluarga karena situasi ekonomi yang tidak selalu stabil.
Tren yang Juga Terjadi di Banyak Negara
United Nations Population Fund (UNFPA) turut mencatat kecenderungan serupa, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara lain. Pasangan muda semakin sering memilih jumlah anak yang lebih sedikit karena ingin menjaga ruang antara karier dan keluarga. Ketidakpastian ekonomi ikut memperkuat keputusan itu, terutama ketika biaya hidup terasa makin menekan.
Dengan begitu, pilihan memiliki satu anak kini bukan lagi sekadar soal preferensi pribadi. Di baliknya ada perhitungan panjang tentang masa depan, kemampuan finansial, dan upaya menjaga agar keluarga tetap berjalan tanpa kehilangan stabilitas.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
