Pada kesempatan yang sama, Dr. Eka Widya Khorinal, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, menyoroti bahwa pasien sering merasa ketakutan berlebihan setelah membaca hasil analisis dari teknologi kecerdasan buatan (AI). Sebagai contoh, AI mungkin menyatakan bahwa anemia menandakan adanya leukemia, yang dapat membuat pasien panik meskipun sebenarnya ada banyak penyebab anemia selain leukemia. Ini menunjukkan pentingnya peran dokter dalam menjelaskan informasi dan memberikan nasihat yang sesuai kepada pasien.
Fenomena self-diagnosis melalui AI atau internet seringkali menyebabkan pasien memiliki persepsi yang keliru tentang kondisi kesehatan mereka. Menurut Hilman, hasil analisis dari teknologi seharusnya dijadikan sebagai awal pembicaraan dengan dokter, bukan sebagai dasar untuk membuat kesimpulan sendiri. AI adalah alat untuk membantu memperjelas masalah kesehatan, namun harus diingat bahwa AI tidak dapat mencakup semua aspek kondisi kesehatan seseorang.
Sebagai contoh, hasil tes Hemoglobin mungkin menunjukkan tingkat yang sangat rendah, namun jika pasien terlihat sehat, tidak pucat, tidak mengalami sesak napas, dan tidak memiliki keluhan lain, dokter harus tetap melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasien, bukan hanya berdasarkan angka dari hasil tes laboratorium. Hal ini menekankan bahwa penanganan medis harus didasarkan pada evaluasi komprehensif oleh dokter yang berpengalaman, bukan hanya mengandalkan hasil analisis teknologi.
