Minuman Manis Bisa Meningkatkan Risiko Penyakit Hati yang Mematikan
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengonsumsi satu kaleng minuman manis per hari, baik itu soda biasa maupun soda diet, dapat meningkatkan risiko terserang penyakit hati yang mematikan. Penyakit ini dikenal dengan nama penyakit hati terkait disfungsi metabolik (Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease/MASLD) atau biasa disebut dengan penyakit hati berlemak non-alkohol (non-alcoholic fatty liver disease/NAFLD). MASLD terjadi ketika lemak berlebih menumpuk di hati, bahkan pada orang yang tidak mengonsumsi alkohol sama sekali. Penyakit ini juga merupakan penyebab utama kanker hati.
Studi yang dilakukan oleh para peneliti Cina menemukan bahwa konsumsi minuman manis seperti soda dan minuman bertenaga (sugar-sweetened beverages/SSBs) meningkatkan risiko MASLD sebesar 50 persen. Sementara itu, minuman rendah atau tanpa gula (low-or non-sugar-sweetened beverages/LNSSBs) seperti soda diet meningkatkan risiko MASLD sebesar 60 persen.
Peneliti menjelaskan bahwa gula yang tinggi dalam minuman manis dapat menyebabkan lonjakan glukosa darah dan insulin yang dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati. Minuman dengan gula rendah atau tanpa gula juga dapat mempengaruhi kesehatan hati dengan mengubah mikrobioma usus, mengganggu rasa kenyang, memicu keinginan mengonsumsi makanan manis, dan merangsang sekresi insulin.
Studi ini menunjukkan bahwa minuman soda “diet” yang sering dianggap lebih sehat sebenarnya dapat lebih membahayakan kesehatan hati. Mengganti minuman bergula dengan air dapat mengurangi risiko MASLD sebesar hampir 12,8 persen, sementara mengganti minuman diet dengan air dapat mengurangi risiko hingga 15,2 persen.
Peneliti menekankan pentingnya mempertimbangkan kembali peran minuman manis dalam pola makan dan kesehatan hati. Air tetap menjadi pilihan terbaik untuk mencegah penumpukan lemak di hati dan menjaga tubuh terhidrasi dengan baik.
Risiko Penyakit Hati: Minuman Soda Biasa dan Diet
