Di tengah banyaknya iklan suplemen untuk kulit, rambut, dan kesehatan tubuh, kekhawatiran tentang perlunya konsumsi vitamin dan mineral semakin meningkat. Namun, Founder Clara Skin Clinic Raden Saleh, dr. Dani Djuanda, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV, memperingatkan bahwa tidak semua orang sebenarnya membutuhkan suplemen, terutama jika pola makan mereka sudah sehat dan seimbang.
Menurut dr. Dani, suplemen sebenarnya hanya bersifat sebagai pendukung, bukan kebutuhan pokok. Kandungan gizi dari makanan sehat tetap menjadi landasan utama dalam menjaga kesehatan kulit dan tubuh. “Suplemen sebenarnya hanya sebagai tambahan. Jika pola makan kita sudah sehat dengan asupan sayur dan buah yang cukup, sebagaimana dalam istilah empat sehat lima sempurna, maka sebenarnya kita tidak perlu mengonsumsi suplemen,” jelas dr. Dani dalam wawancara dengan Health Liputan6.com.
Kapan seharusnya seseorang mengonsumsi suplemen? Dr. Dani menjelaskan bahwa suplemen diperlukan dalam situasi tertentu, seperti ketika seseorang sedang sakit atau mengalami kekurangan nutrisi tertentu. Contoh paling umum adalah penggunaan vitamin D, yang direkomendasikan selama pandemi COVID-19 karena peranannya dalam meningkatkan imunitas tubuh. Namun, dr. Dani menekankan pentingnya melakukan pemeriksaan kadar vitamin D terlebih dahulu sebelum mengonsumsi suplemen.
Sayangnya, tidak semua orang mampu atau mau melakukan pemeriksaan laboratorium karena biaya yang terkadang cukup tinggi. Akibatnya, banyak orang mengambil suplemen tanpa dasar yang jelas, yang pada akhirnya bisa menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa suplemen seharusnya hanya digunakan setelah berkonsultasi dengan dokter dan didasarkan pada kebutuhan spesifik yang telah teridentifikasi.


