Dalam sebuah hubungan, ungkapan ‘diam itu emas’ memang sering kali terdengar, namun perlu diingat bahwa diam tidak selalu merupakan hal yang baik. Psikolog menekankan bahwa makna diam akan sangat bergantung pada konteks dalam hubungan tersebut. Ada perbedaan yang signifikan antara diam sebagai cara untuk menenangkan diri dan silent treatment yang justru dapat merusak hubungan.
Menurut informasi dari Verywell Mind, silent treatment terjadi ketika seseorang dengan sengaja memilih untuk tidak berkomunikasi sebagai bentuk kontrol, hukuman, atau upaya untuk menunjukkan kekuasaan dalam hubungan. Berbeda dengan diam pada saat tertentu untuk merenung dan memikirkan hal-hal dengan lebih jernih, silent treatment justru bersifat manipulatif dan berpotensi merusak ikatan emosional antara pasangan.
Dalam hubungan yang sehat, diam dapat dianggap sebagai hal yang wajar. Misalnya, ketika emosi sedang naik, salah satu atau bahkan kedua pasangan dapat memilih untuk mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Umumnya, ada kesepakatan bahwa topik yang sedang menjadi perdebatan tersebut akan dibicarakan kembali di lain waktu. Diam juga bisa dijadikan sebagai bentuk perlindungan diri, terutama dalam situasi di mana terjadi kekerasan verbal atau emosional.
Hal yang perlu diingat adalah bahwa diam yang digunakan untuk merenung dan menenangkan diri tidak sama dengan silent treatment. Perbedaannya terletak pada niat dan tujuan dari tindakan tersebut. Silent treatment adalah ketika seseorang menolak sepenuhnya untuk membicarakan masalah tersebut, baik itu sekarang maupun di kemudian hari.


