Peningkatan Budaya Membaca untuk Generasi Penerus yang Berdaya Saing
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, memaparkan pentingnya peningkatan budaya membaca sebagai bagian dari upaya penguatan literasi guna menciptakan generasi penerus bangsa yang memiliki daya saing. Menurutnya, budaya membaca ini akan menjadi modal berharga dalam menghadapi segala tantangan di masa depan.
Menurut data yang didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS), baru 44,56 persen siswa yang memanfaatkan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat hingga tahun 2024. Kunjungan siswa SD ke perpustakaan menunjukkan angka paling rendah, sementara siswa SMP dan SMA memiliki angka kunjungan yang lebih tinggi.
Hasil survei GoodStats pada Januari hingga Februari 2025 juga mengindikasikan bahwa hanya 20,7 persen masyarakat Indonesia yang rutin membaca setiap hari. Berbagai faktor seperti kurangnya waktu, minimnya motivasi pribadi, dan pesatnya konten digital seperti video, media sosial, juga menjadi penyebab rendahnya minat baca.
Rerie menegaskan bahwa langkah-langkah strategis harus segera diimplementasikan untuk mengatasi rendahnya minat baca masyarakat. Budaya membaca perlu ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah. Ketersediaan dan akses mudah terhadap buku berkualitas serta pembangunan budaya membaca melalui peningkatan waktu khusus untuk membaca buku di sekolah menjadi kunci dalam upaya ini.
Ia juga mengharapkan partisipasi aktif dari berbagai pihak terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah, serta dukungan masyarakat secara keseluruhan. Semua langkah ini diharapkan dapat menciptakan generasi penerus bangsa yang memiliki kemampuan dan daya saing yang memadai di masa depan.


