Anak yang sedang marah, mengamuk, atau menangis histeris dapat membuat orang tua merasa tertekan. Hal ini sering terjadi pada balita dan anak prasekolah yang belum bisa mengungkapkan perasaan mereka dengan kata-kata. Menurut Meri Wallace, seorang pakar parenting dan terapis anak, kemarahan pada anak seringkali muncul dalam bentuk reaksi fisik karena mereka kesulitan dalam berkomunikasi secara verbal.
Anak-anak kecil juga masih sulit dalam mengontrol diri ketika keinginan mereka tidak terpenuhi. Mereka bisa spontan merespon secara berlebihan karena merasa kebutuhan mereka sangat penting. Tantrum bisa dianggap sebagai protes dan ekspresi ketidakberdayaan. Meskipun melelahkan, kemarahan adalah emosi yang normal dan penting untuk anak-anak pelajari cara mengekspresikannya dengan benar.
Dilansir dari Parents, ada enam cara efektif yang bisa dilakukan, pertama adalah menerima kemarahan anak. Orang tua perlu mengakui perasaan marah anak dan memvalidasinya. Mengatakan bahwa marah adalah hal yang wajar bisa membantu anak merasa diterima dan nyaman dalam mengekspresikan emosinya. Setelah itu, membantu anak mengatur perasaannya dengan cara yang sehat dan tepat akan membantu menurunkan intensitas emosi dan menghindari eskalasi situasi yang lebih buruk.


