Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, nilai tukar rupiah melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.873 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.855 per dolar AS. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan bahwa pelemahan kurs rupiah dipengaruhi oleh pernyataan hawkish dari pejabat The Fed terkait suku bunga. Menurut Lukman, rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yang rebound merespons pernyataan hawkish pejabat The Fed William. William mengisyaratkan bahwa the Fed tidak perlu buru-buru menurunkan suku bunga karena suku bunga AS saat ini telah sesuai dengan kondisi sektor pekerjaan dan inflasi. Data inflasi AS yang diperkirakan akan naik juga berpotensi membuat dolar AS menguat, yang kemudian melemahkan kurs rupiah. Inflasi inti diperkirakan akan naik dari 2,6 persen menjadi 2,7 persen, sementara inflasi dasar tetap bertahan di 2,7 persen. Berdasarkan faktor-faktor ini, rupiah diprediksi akan berkisar antara Rp16.800-Rp16.900 per dolar AS.


