Indonesia telah mengadaptasi strategi pertahanan nasionalnya di tengah dinamika global yang semakin kompleks dengan postur pertahanan yang kuat namun tidak agresif. Menurut Menhan RI, strategi pertahanan aktif menjadi fokus dalam berbagai forum kebijakan belakangan ini. Pertahanan aktif merupakan pendekatan yang tidak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga melibatkan strategi diplomasi yang kuat.
Dalam konteks peperangan modern yang berlarut-larut, konflik antaraktor menjadi semakin kompleks, terutama dalam bentuk tekanan multi-dimensi yang berlangsung lama. Oleh karena itu, strategi pertahanan aktif menuntut kesiapsiagaan dan respon yang adaptif terhadap ancaman yang tidak selalu eksplisit namun nyata di ruang strategis global.
Indonesia percaya bahwa kedaulatan dan kepentingannya harus dipertahankan dalam jangka panjang, bukan hanya untuk kemenangan cepat, tetapi juga untuk ketahanan strategis dalam menghadapi dampak peperangan berlarut di berbagai belahan dunia. Pertahanan aktif dilihat sebagai strategi yang proaktif dalam mencegah, menahan, dan beradaptasi dengan ancaman baru yang multidimensional.
Negara-negara lain seperti Amerika Serikat, China, dan Jepang sudah lama menerapkan strategi pertahanan aktif dalam kebijakan pertahanan nasional mereka. Mereka menekankan integrasi deterrence dan integrated defense, serta fokus pada kemampuan kesiapsiagaan militer dan diplomasi untuk menghadapi berbagai ancaman, termasuk yang bersifat siber dan ruang angkasa. Hal ini menunjukkan bahwa pertahanan aktif bukan hanya tentang kekuatan militer, tetapi juga tentang diplomasi dan kerjasama regional yang kuat untuk membangun stabilitas regional yang kokoh.


