Jakarta tak sedang sekadar merapikan kawasan bersejarahnya. Di balik pengembangan Kota Tua, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin menegaskan kembali wajah Jakarta sebagai kota pesisir yang tumbuh dari laut, pelabuhan, dan mobilitas maritim. Dalam kerangka itu, Museum Bahari ditempatkan bukan sebagai bangunan pelengkap, melainkan simpul penting yang menghubungkan sejarah, identitas, dan arah pembangunan kota ke depan.
Museum Bahari Jadi Penanda Arah Baru Kota Tua
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menekankan bahwa pengembangan Museum Bahari berkaitan erat dengan kerja sama Jakarta dan Rotterdam. Menurut dia, museum tersebut harus dipahami sebagai bagian integral dari penguatan kawasan Kota Tua, bukan berdiri sendiri tanpa kaitan dengan narasi besar kota.
Rano menilai Museum Bahari mengingatkan publik bahwa Jakarta lahir dan berkembang dari wilayah pesisir. Karena itu, pengembangan kawasan ini tidak cukup hanya bertumpu pada aspek wisata dan bangunan tua, tetapi juga pada penguatan identitas sejarah maritim yang menjadi akar kota.
Dari Sejarah Maritim ke Tantangan Masa Kini
Di sisi lain, Rano mengingatkan bahwa Jakarta yang tumbuh dari pesisir kini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks. Perubahan iklim, kenaikan muka air laut, banjir rob, hingga ketahanan sosial menjadi persoalan yang harus dihadapi secara bersamaan, termasuk perlindungan terhadap anak dan kelompok rentan.
Dalam pandangannya, Museum Bahari bukan hanya tempat menyimpan jejak masa lalu, tetapi juga ruang belajar untuk membaca masa depan. Pandangan itu selaras dengan keberadaan Sustainable Development Goals (SDGs) Corner di Museum Bahari, yang dirancang sebagai fasilitas edukatif dan inklusif untuk membahas tantangan pembangunan berkelanjutan serta isu kehidupan laut di Indonesia.
Kolaborasi, Inklusi, dan Kota Global
Kolaborasi Museum Bahari Jakarta dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menghadirkan SDGs Corner disebut menjadi salah satu langkah menuju pembangunan yang lebih inklusif bagi seluruh warga. Di tengah ambisi Jakarta menjadi kota global, agenda SDGs pun makin relevan sebagai pijakan kebijakan publik.
Di tingkat Pemprov DKI Jakarta, sejumlah program telah dijalankan, mulai dari pangan bersubsidi, kartu layanan gratis bagi penyandang disabilitas, penguatan aksi iklim, hingga perluasan ruang terbuka hijau. Untuk kawasan pesisir, pemerintah daerah juga menjalankan rehabilitasi mangrove, pembangunan tanggul pantai, pembangunan rumah susun pesisir, serta Program Kampung Iklim Pesisir sebagai respons atas ancaman perubahan iklim.
Di tengah itu, Museum Bahari tetap menarik perhatian lewat pameran yang menelusuri sejarah eksplorasi kawasan pesisir Jakarta. Di saat yang sama, dorongan integrasi wisata Kota Tua dan Pecinan Glodok, serta perbaikan Pasar Baru dan Kota Tua agar lebih mudah diakses MRT, menunjukkan bahwa pengembangan kota tidak lagi dipandang sebagai proyek fisik semata. Jakarta sedang mencoba menyatukan sejarah, edukasi, dan keberlanjutan dalam satu arah pembangunan yang sama.
