Kepatuhan dalam mengonsumsi obat memainkan peran yang sangat penting dalam keberhasilan pengobatan. Namun, masih banyak pasien yang tidak mematuhi aturan dan anjuran yang diberikan. Menurut Profesor Yunita Nita, seorang Guru Besar Ilmu Farmasi Praktis dari Universitas Airlangga, ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor pasien, terapi, sistem kesehatan, dan kondisi sosio ekonomi.
Ada dua jenis ketidakpatuhan dalam minum obat, yaitu yang bersifat disengaja dan tidak disengaja. Ketidakpatuhan disengaja terjadi ketika pasien dengan sengaja menolak atau mengubah pengobatan yang diberikan. Sedangkan ketidakpatuhan tidak disengaja terjadi ketika pasien gagal mengikuti pengobatan meski sebenarnya berniat untuk melakukannya.
Ketidakpatuhan dalam minum obat tidak boleh dianggap enteng karena dapat menimbulkan konsekuensi yang serius, terutama pada kasus penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit ginjal. Hal ini dapat berakibat pada peningkatan kerusakan organ. Selain dampak fisik, ketidakpatuhan dalam minum obat juga dapat berdampak pada kondisi mental, seperti memperburuk gejala yang ada dan menurunkan kualitas hidup pasien.
Selain berdampak secara klinis dan kesehatan, ketidakpatuhan terhadap terapi juga dapat menimbulkan beban finansial bagi sistem kesehatan. Oleh karena itu, peran apoteker pun seharusnya beralih dari hanya fokus pada produk obat, menjadi lebih berorientasi pada perawatan pasien. Perubahan paradigma ini terbukti mampu meningkatkan kepatuhan pasien, serta memperbaiki hasil klinis dan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.

