Posisi hilal di Nusa Tenggara Barat masih belum masuk kategori mudah diamati. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) NTB melaporkan, hasil pemantauan dari Pusat Observasi Bulan di Lombok Utara menunjukkan bulan masih berada di bawah ufuk dengan ketinggian minus 1,268 derajat. Dengan kondisi seperti itu, hilal belum mungkin terlihat secara astronomis.
Hilal Masih Terbenam di Bawah Garis Ufuk
Kepala Stasiun Geofisika Mataram, Sumawan, menjelaskan bahwa selain berada di bawah horizon, elongasi bulan juga masih sangat kecil, yakni 1,208 derajat. Menurut dia, kombinasi ini membuat hilal belum memenuhi syarat keteramatan yang umum dipakai dalam pengamatan awal bulan.
“Secara umum, hilal berpeluang terlihat jelas jika sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian positif dan elongasi minimal sekitar 6 sampai 7 derajat,” kata Sumawan.
BMKG NTB Siapkan Rukyatul Hilal di Mataram
Selain pengamatan di Lombok Utara, BMKG NTB juga menyiapkan titik rukyatul hilal di Pantai Loang Baloq, Kota Mataram. Pengamatan dijadwalkan berlangsung pada pukul 17.00 WITA, Rabu (18/2), sebagai bagian dari pemantauan yang melibatkan titik-titik pengamatan lainnya.
Untuk pemantauan pada sore berikutnya, Sumawan memperkirakan posisi hilal sudah berada pada ketinggian 8,287 derajat dengan elongasi 11,588 derajat. Angka itu menunjukkan perubahan posisi bulan yang signifikan dibanding hasil observasi saat ini.
Pemantauan Serentak Jadi Dasar Penetapan Awal Bulan
Sebelumnya, Kementerian Agama bersama BMKG telah melakukan pemantauan hilal serentak di 133 titik di seluruh Indonesia. Hasil pengamatan tersebut kemudian menjadi salah satu dasar dalam sidang isbat penetapan awal bulan Hijriah yang digelar di Jakarta pada Selasa (17/2).
Melalui rangkaian pemantauan itu, pemerintah berupaya memastikan penetapan awal Ramadhan memiliki dasar observasi yang jelas, sekaligus memberi kepastian bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah.
