Jenewa menjadi panggung baru bagi diplomasi yang masih rapuh antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam putaran kedua negosiasi tak langsung, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyebut pembahasan kali ini berjalan lebih konstruktif dibanding pertemuan sebelumnya di Oman. Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara dengan IRIB TV usai rangkaian perundingan nuklir di Kedutaan Besar Oman, Jenewa, Swiss.
Iran Klaim Pembahasan Lebih Produktif
Araghchi mengatakan belum ada kesepakatan final yang tercapai, namun kedua pihak disebut telah menyepakati sejumlah prinsip umum yang akan menjadi dasar penyusunan teks perjanjian potensial. Menurut dia, kemajuan itu cukup berarti karena membuka jalan bagi pembahasan yang lebih teknis pada tahap berikutnya.
“Konstruktif” menjadi kata kunci yang dipakai Araghchi untuk menggambarkan suasana perundingan di Jenewa. Meski begitu, ia tidak menutupi bahwa proses ini masih panjang dan belum menghasilkan terobosan yang bisa langsung diumumkan ke publik.
Belum Ada Jadwal Lanjutan, Draf Akan Dipertukarkan
Untuk saat ini, belum ada jadwal resmi bagi putaran berikutnya. Namun, Iran dan Amerika Serikat dikabarkan sepakat untuk saling bertukar draf teks perjanjian potensial sebelum menentukan agenda pertemuan selanjutnya.
Araghchi menyatakan optimistis pembicaraan bisa diselesaikan secepat mungkin, meski ia juga menegaskan pihaknya siap meluangkan waktu yang diperlukan agar hasilnya benar-benar matang. Sikap ini menunjukkan bahwa Teheran ingin menjaga ruang negosiasi tetap terbuka, tanpa memberi kesan tergesa-gesa.
Ketegangan Tetap Membayangi Meja Perundingan
Di luar ruang negosiasi, suasana kawasan tetap tegang. Setelah perundingan, Iran mengumumkan penutupan sementara di sejumlah bagian Selat Hormuz demi alasan keselamatan selama latihan tembak langsung. Langkah ini menambah lapisan ketidakpastian di tengah proses diplomasi yang masih berjalan.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei ikut merespons ancaman Presiden AS Donald Trump. Khamenei menyatakan keyakinannya bahwa upaya Trump untuk menghancurkan Republik Islam Iran akan gagal. Di sisi lain, negosiasi nuklir terus berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara dan kehadiran militer Amerika Serikat di Asia Barat.
Dengan situasi seperti ini, perundingan Iran-AS bukan hanya soal naskah kesepakatan, tetapi juga ujian sejauh mana kedua pihak mampu menahan eskalasi sambil tetap mencari titik temu.
