Ternate — Di Masjid Kesultanan Ternate, suasana Jumat pekan pertama Ramadhan 1447 H pada Jumat, 20 Februari 2026, berlangsung dengan nuansa yang sulit ditemui di masjid lain. Empat muazin mengumandangkan azan secara bersamaan, lalu rangkaian ibadah dilanjutkan dengan tabuhan bedug yang terdengar tanpa henti selama sekitar satu jam sebelum shalat Jumat dimulai.
Tradisi yang Menjaga Jejak Kesultanan
Masjid yang berdiri sejak 1606 pada masa kekuasaan Sultan Saidi Barakati itu masih mempertahankan kebiasaan lama yang menjadi ciri khasnya. Bedug ditabuh sebagai bagian dari tradisi yang terus dijaga turun-temurun, dan hingga kini tidak ditemukan pada masjid-masjid lain di wilayah tersebut. Bagi jamaah dan warga sekitar, bunyi bedug bukan sekadar penanda waktu, melainkan bagian dari identitas religius dan sejarah kesultanan yang masih hidup.
Rangkaian Ibadah yang Tetap Sakral
Sebelum shalat Jumat dilaksanakan, petugas masjid kesultanan yang dikenal sebagai Bobato Akhirat terlebih dahulu memukul bedug. Setelah itu, perwakilan imam Masjid Kesultanan Ternate berjalan kaki menuju masjid usai meminta restu kepada Sultan Ternate untuk memimpin shalat Jumat pertama di bulan suci Ramadhan tersebut. Di depan pintu masjid, sejumlah petugas kesultanan bersiap menyambut jamaah yang datang.
Atmosfer Khusyuk di Tengah Tradisi
Rangkaian itu menghadirkan suasana ibadah yang khas: khusyuk, tertib, dan sarat makna budaya. Tradisi azan bersama dan bedug yang terus berbunyi menjadi penanda bahwa Masjid Kesultanan Ternate bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang yang menjaga kesinambungan sejarah. Laporan ini disusun berdasarkan keterangan ANTARA.
