Suaraberita.biz - Berita Terbaru Hari Ini
Portal berita online yang menyajikan update terbaru seputar kriminal, tekno, otomotif, olahraga, kesehatan, wisata, gaya hidup, dan crypto
Kesehatan

25% Anak Indonesia Tanpa Ayah: Gubernur Jambi Menyadari Kebutuhan Mendesak

02 March 2026 • 21:11 WIB

Jambi — Di tengah upaya memperkuat ketahanan keluarga, Gubernur Jambi Al Haris mengangkat satu persoalan yang dinilainya tidak bisa lagi dipandang ringan: sekitar 25 persen anak Indonesia tumbuh tanpa figur ayah atau mengalami kondisi fatherless. Data yang disampaikannya itu, merujuk pada informasi dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), menjadi pengingat bahwa persoalan keluarga hari ini punya dampak langsung pada masa depan anak.

Pernyataan itu disampaikan Al Haris saat safari Ramadan di Kabupaten Merangin pada Februari 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah, tetapi juga ruang untuk memperkuat kembali peran keluarga, terutama dalam mendidik anak agar tetap berada di jalur yang sehat secara moral, sosial, dan spiritual.

Fatherless Jadi Alarm Sosial

Menurut Al Haris, fenomena fatherless bukan sekadar urusan rumah tangga, melainkan persoalan sosial yang perlu ditangani bersama. Ia menilai anak yang tumbuh tanpa peran ayah atau tanpa bimbingan keluarga yang utuh berisiko menghadapi persoalan seperti rasa percaya diri yang rendah, emosi yang sulit dikendalikan, hingga lebih mudah terpengaruh lingkungan negatif.

Karena itu, ia menegaskan bahwa pengasuhan tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Ayah dan ibu, kata dia, sama-sama memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak, menanamkan nilai agama, serta membangun disiplin sejak dini.

Media Sosial dan Tantangan Generasi Muda

Selain menyoroti persoalan keluarga, Al Haris juga mengingatkan besarnya pengaruh teknologi dan media sosial terhadap anak-anak dan remaja. Menurutnya, tanpa pendampingan yang cukup, generasi muda sangat mudah terpapar informasi yang tidak sejalan dengan nilai agama maupun budaya bangsa.

Ia mengajak sekolah, tokoh agama, dan masyarakat untuk ikut mengambil bagian dalam memperkuat pendidikan karakter dan nilai spiritual. Dalam pandangannya, pembinaan anak tidak bisa hanya berlangsung di rumah, tetapi juga harus didukung oleh lingkungan pendidikan dan sosial yang sehat.

Masjid Diminta Jadi Pusat Pembinaan Umat

Al Haris juga menaruh harapan besar pada peran masjid. Ia menilai rumah ibadah tidak semestinya hanya menjadi tempat salat, melainkan juga pusat pembinaan umat, terutama bagi generasi muda yang tengah mencari arah dan pegangan hidup.

Baginya, penguatan keluarga dan pembentukan karakter anak adalah investasi jangka panjang yang menentukan kualitas daerah dan bangsa di masa depan. Karena itu, ia mendorong agar perhatian terhadap anak dan keluarga tidak berhenti pada seruan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam pendampingan yang nyata di tengah masyarakat.