Pasar saham Asia mengalami tekanan pada hari Senin setelah terjadi serangan militer oleh AS dan Israel ke Iran, yang menyebabkan lonjakan harga minyak dan penjualan aset berisiko. Meskipun demikian, Bitcoin tetap stabil diperdagangkan di sekitar USD 66.500, setelah mengalami volatilitas antara USD 63.000 hingga USD 68.000 selama akhir pekan.
Menurut laporan dari Yahoo Finance, penutupan Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak hingga 13% di awal perdagangan, memicu kekhawatiran di kalangan investor global dan mendorong peralihan ke aset safe haven.
Di sisi lain, bursa saham Asia juga merasakan tekanan. Indeks Nikkei Jepang turun lebih dari 2% di awal sesi sebelum berhasil memangkas kerugian. Sementara itu, Hang Seng Hong Kong dan Straits Times Singapura juga mengalami penurunan lebih dari 2%, sedangkan bursa saham Shanghai mengalami koreksi tipis sebesar 0,45%.
Perusahaan maskapai penerbangan seperti Qantas, Singapore Airlines, dan Japan Airlines mengalami penurunan lebih dari 5% karena lonjakan biaya bahan bakar dan gangguan rute penerbangan. Namun, saham sektor energi seperti PetroChina dari Tiongkok menguat seiring dengan kenaikan harga minyak.
Meskipun harga minyak mulai mereda pada tengah hari, Bitcoin tetap terkendali dengan turun sekitar 2,2% namun masih mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan kontrak berjangka saham dan mayoritas indeks di Asia. Peforma Bitcoin ini memberikan nilai tambah ketika pasar sedang dilanda gejolak akibat serangan Iran.
Dalam pasar komoditas, harga emas naik 1,76% sementara kontrak berjangka indeks AS berhasil memangkas penurunan. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya perilaku aset investasi dalam menghadapi kondisi pasar yang bergejolak seperti saat ini.

