Ketika pasar Asia dibuka dengan suasana penuh waspada akibat serangan militer AS dan Israel ke Iran, satu aset justru tampil lebih tenang dari yang lain: Bitcoin. Di saat saham-saham regional terpukul oleh lonjakan harga minyak dan pelarian investor ke aset aman, kripto terbesar di dunia itu bertahan di sekitar USD 66.500, meski sempat bergerak liar di rentang USD 63.000 hingga USD 68.000 sepanjang akhir pekan.
Perbandingan ini membuat Bitcoin kembali menonjol sebagai aset yang tidak selalu bergerak searah dengan gejolak pasar tradisional. Saat ketegangan geopolitik memicu tekanan di bursa, pergerakan Bitcoin masih relatif terkendali jika dibandingkan dengan saham Asia yang langsung merasakan dampaknya.
Minyak Melonjak, Investor Beralih ke Aset Aman
Mengutip Yahoo Finance, penutupan Selat Hormuz ikut mendorong harga minyak mentah Brent melonjak hingga 13% pada awal perdagangan. Lonjakan itu memunculkan kekhawatiran baru di pasar global, terutama karena jalur tersebut merupakan titik penting bagi arus energi dunia. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan mencari perlindungan di instrumen yang dianggap lebih aman.
Perubahan sentimen ini langsung terasa di berbagai pasar. Emas naik 1,76%, sementara kontrak berjangka indeks AS berhasil memangkas sebagian penurunan. Namun, di tengah perpindahan dana ke aset defensif, Bitcoin tetap menunjukkan daya tahan yang membuatnya berbeda dari mayoritas aset berisiko lain.
Saham Asia Tertekan, Maskapai Jadi Korban Terbesar
Tekanan paling jelas terlihat di bursa Asia. Nikkei Jepang sempat anjlok lebih dari 2% pada awal sesi sebelum memangkas sebagian kerugian. Di Hong Kong, indeks Hang Seng juga turun lebih dari 2%, disusul Straits Times Singapura yang bergerak di zona merah dengan besaran serupa. Sementara itu, Shanghai hanya terkoreksi tipis 0,45%.
Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terpukul. Saham Qantas, Singapore Airlines, dan Japan Airlines masing-masing turun lebih dari 5% akibat kekhawatiran terhadap kenaikan biaya bahan bakar serta potensi gangguan rute penerbangan. Sebaliknya, saham energi seperti PetroChina justru menguat seiring naiknya harga minyak.
Bitcoin Masih Lebih Tahan Dibanding Indeks Saham
Meski harga minyak mulai mereda pada tengah hari, Bitcoin tetap bergerak dalam batas yang relatif terkendali. Aset ini tercatat turun sekitar 2,2%, tetapi penurunannya masih lebih baik dibanding kontrak berjangka saham dan sebagian besar indeks di Asia. Bagi sebagian pelaku pasar, kondisi ini memperlihatkan bahwa Bitcoin punya karakter yang berbeda saat ketegangan geopolitik meningkat: volatil, tetapi tidak selalu seburuk pasar ekuitas.
Di saat saham maskapai tertekan, indeks Asia melemah, dan energi melonjak, Bitcoin justru memberikan gambaran bahwa aset digital ini mulai dipandang bukan sekadar spekulasi, melainkan juga instrumen yang mampu bertahan lebih baik dalam situasi pasar yang diguncang konflik.
