Potensi Penguatan Bitcoin di Tengah Risiko Perang: Alasannya

Ketegangan geopolitik kerap dibaca sebagai ancaman bagi pasar, tetapi Arthur Hayes melihat sisi lain yang justru bisa menguntungkan Bitcoin. Pendiri BitMEX itu menilai, jika keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran benar-benar meluas, The Fed berpotensi terdorong mengambil sikap moneter yang lebih longgar. Dalam pandangannya, kondisi seperti ini dapat menjadi bahan bakar positif bagi aset berisiko dalam jangka panjang, termasuk Bitcoin.
Pola lama yang dibaca Hayes sebagai sinyal penting
Dalam esai terbarunya yang terbit pada 2 Maret dan dikutip dari tulisannya berjudul iOS Warfare, Hayes menyoroti pola yang menurutnya berulang selama empat dekade terakhir. Ia menyebut, setiap kali presiden AS melancarkan operasi militer besar di Timur Tengah, respons kebijakan moneter cenderung mengarah ke pelonggaran. Dari sudut pandangnya, hubungan antara perang dan kebijakan bank sentral itu bukan kebetulan, melainkan kecenderungan historis yang cukup konsisten.
Contoh sejarah: dari Perang Teluk hingga 11 September
Hayes menyinggung Perang Teluk 1990 saat era Presiden George H.W. Bush. Kala itu, The Fed awalnya menahan suku bunga, tetapi kemudian memberi sinyal siap melonggarkan kebijakan jika konflik berlanjut. Pada November dan Desember 1990, suku bunga akhirnya dipangkas, meski inflasi masih tertekan oleh lonjakan harga minyak.
Ia juga mengaitkan serangan 11 September 2001 dengan langkah darurat dari bank sentral AS. Saat itu, Ketua The Fed Alan Greenspan memangkas suku bunga 50 basis poin untuk menjaga stabilitas pasar dan memulihkan kepercayaan. Menurut Hayes, siklus serupa juga terlihat dalam perang di Irak dan Afghanistan.
Bitcoin di tengah risiko perang dan ruang kebijakan yang menyempit
Hayes menambahkan, pada 2009 ketika Presiden Barack Obama meningkatkan jumlah pasukan di Afghanistan, suku bunga sudah berada di level nol dan program pelonggaran kuantitatif telah berjalan. Artinya, ruang The Fed untuk memangkas suku bunga semakin terbatas. Dari rangkaian itu, Hayes menyimpulkan bahwa eskalasi konflik geopolitik bisa memperbesar peluang bank sentral mengambil kebijakan yang lebih akomodatif, sebuah kondisi yang kerap dibaca pasar sebagai angin segar bagi Bitcoin.
Dengan kata lain, bagi Hayes, risiko perang tidak selalu berujung pada tekanan untuk aset digital. Dalam skenario tertentu, justru ketegangan geopolitik bisa memicu respons kebijakan yang mendukung likuiditas, dan di situlah Bitcoin berpotensi mendapat dorongan tambahan.



