Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi sinyal kewaspadaan untuk Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam periode 3 hingga 8 Maret 2026, wilayah ini berpotensi diguyur cuaca ekstrem seiring kemunculan dua bibit siklon tropis di Samudera Hindia. Kondisi atmosfer yang dinilai aktif membuat NTB berada dalam fase yang perlu dipantau ketat, terutama karena dampaknya bisa meluas ke hampir seluruh kabupaten dan kota.
Dua Bibit Siklon Tropis Picu Suplai Awan Hujan
Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Satria Topan Primadi, menjelaskan bahwa hasil identifikasi BMKG menemukan bibit siklon tropis 90S di Samudera Hindia sebelah selatan Pulau Jawa dan 93S di Samudera Hindia sebelah barat Australia. Keberadaan dua sistem ini dapat mendorong masuknya massa udara basah ke wilayah NTB dan memicu pertumbuhan awan hujan dalam jumlah lebih besar dari biasanya.
Menurut BMKG, kondisi tersebut bukan berdiri sendiri. Sejumlah gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Low Frequency, dan gelombang Kelvin juga ikut memperkuat proses konvektif. Kombinasi faktor ini membuat potensi hujan lebat meningkat, disertai petir dan angin kencang.
Hampir Seluruh Wilayah NTB Berpeluang Terdampak
BMKG menyebut gangguan atmosfer ini berpotensi memengaruhi hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota di NTB. Perlambatan kecepatan angin serta tingginya kelembapan udara di berbagai lapisan atmosfer turut memperbesar peluang terbentuknya awan kumulonimbus, jenis awan yang kerap menjadi pemicu hujan intensitas sedang hingga sangat lebat.
Dengan kondisi seperti ini, masyarakat diminta tidak menganggap remeh perubahan cuaca yang terjadi mendadak. Hujan singkat namun deras, sambaran petir, hingga hembusan angin kencang bisa muncul dalam waktu cepat dan berdampak pada aktivitas harian maupun keselamatan warga.
BMKG Minta Warga Siaga Bencana Hidrometeorologi
BMKG mengingatkan adanya risiko bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga sambaran petir. Warga yang tinggal di daerah rawan diminta lebih waspada, terutama saat intensitas hujan mulai meningkat.
Satria juga menyampaikan sejumlah langkah antisipasi, seperti membersihkan saluran air dari sampah, menghindari aktivitas luar ruangan saat cuaca ekstrem, memangkas ranting pohon yang rapuh, serta menyiapkan rencana evakuasi dini bila berada di kawasan yang rawan bencana. Informasi kewaspadaan ini disampaikan BMKG melalui Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid sebagai bagian dari peringatan dini kepada masyarakat NTB.
