Berita

Langkah Konkret Mendikdasmen Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman

Langkah Konkret Mendikdasmen Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mulai menata isu kesehatan mental peserta didik dari hulu, bukan sekadar saat masalah sudah muncul di sekolah. Melalui sejumlah kebijakan dan penguatan sistem, Kemendikdasmen mendorong lahirnya budaya sekolah yang aman, nyaman, dan lebih peka terhadap kondisi psikologis murid.

Kebijakan Baru Jadi Fondasi Sekolah Aman

Mu’ti menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman serta Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 17 Tahun 2026. Kedua aturan ini menjadi dasar bagi sekolah untuk membangun lingkungan belajar yang kondusif sekaligus memberi perhatian lebih pada kesehatan mental peserta didik.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa urusan keamanan sekolah tidak lagi dipahami sebatas bebas dari kekerasan fisik. Ada perhatian pada rasa aman, kenyamanan, dan iklim belajar yang mendukung tumbuh kembang murid secara utuh.

Penanganan Kesehatan Mental Tak Lagi Dibebankan ke BK Saja

Di sisi lain, Kemendikdasmen juga mengubah pendekatan dalam manajemen sumber daya manusia di sekolah. Penanganan kesehatan mental tidak ditempatkan hanya di pundak guru bimbingan konseling, tetapi diperluas menjadi tanggung jawab seluruh guru.

Untuk memperkuat pengawasan dan tindak lanjut, kementerian memanfaatkan data Rapor Pendidikan sebagai alat monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Digitalisasi laporan kasus juga terus didorong agar proses penanganan lebih cepat dan data yang dihimpun makin akurat.

Empat Fokus Utama dan Penguatan Karakter Murid

Dalam penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, Kemendikdasmen menempatkan empat aspek utama: pemenuhan kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, serta keamanan sosio-kultural dan digital. Sekolah juga didorong memperkuat tata kelola, memberi edukasi kepada warga sekolah, dan memaksimalkan peran seluruh unsur sekolah lewat manajemen kelas.

Untuk sisi pembentukan karakter, kementerian menggerakkan sejumlah program seperti Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, 7 Jurus Sekolah Hebat, dan kebijakan Guru Wali. Ada pula program Sekolah Sehat yang menekankan lima aspek kesehatan, mulai dari kesehatan fisik, imunisasi, kesehatan jiwa, kebugaran, hingga kesehatan lingkungan.

Selain itu, Kemendikdasmen mendorong partisipasi aktif murid lewat Gerakan Rukun Sama Teman dan kegiatan upacara bendera. Di jalur kokurikuler, Modul Pembiasaan Karakter Hebat disiapkan untuk memperkuat karakter sekaligus daya saing peserta didik.

Tak berhenti di situ, kementerian juga menerbitkan Buku Pedoman Kesehatan Jiwa Remaja SMP sebagai panduan bagi pendidik dan orang tua. Dokumen ini diarahkan untuk memperkuat komunikasi antara rumah dan sekolah agar dukungan terhadap kesehatan jiwa murid berjalan lebih menyeluruh, bukan parsial.

Seperti disampaikan Kemendikdasmen, rangkaian kebijakan ini menjadi bagian dari upaya membangun sekolah yang bukan hanya tertib, tetapi juga benar-benar hadir sebagai ruang aman bagi peserta didik.