Data terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan bahwa hampir 10 persen anak Indonesia mengalami masalah kesehatan jiwa, menurut hasil dari CKG periode 2025-2026. Dari sekitar 7 juta anak yang telah diskrining, Kemenkes menemukan gejala kecemasan dan depresi yang signifikan. Sekitar 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan, sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi. Menkes Budi menegaskan bahwa masalah kesehatan mental pada anak memerlukan perhatian serius karena dapat berdampak pada kematian akibat bunuh diri, seperti yang terlihat dari peningkatan jumlah kasus percobaan bunuh diri dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023 menurut Data Global School-Based Student Health Survey.
Faktor-faktor seperti lingkungan keluarga, pertemanan, dan pendidikan juga turut memengaruhi masalah kesehatan jiwa pada anak. Budi menekankan pentingnya tidak hanya memperbaiki anak itu sendiri, namun juga pola asuh keluarga dan lingkungan belajar. Kemenkes berencana untuk memperluas skrining CKG agar dapat mencapai 25 juta anak. Hasil skrining tersebut akan diikuti oleh tindak lanjut dari Puskesmas.
Pemerintah juga sedang dalam proses percepatan pemenuhan tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang saat ini masih terbatas, serta layanan krisis kesehatan jiwa melalui Healing119.id untuk mendukung intervensi cepat dalam penanganan masalah kesehatan mental pada anak. Dengan langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan upaya dalam menjaga kesehatan jiwa anak-anak Indonesia.

