Pengamat pertahanan dan keamanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES) yaitu Khairul Fahmi, mengevaluasi penurunan status Siaga 1 menjadi Siaga 3 yang dikeluarkan oleh TNI sebagai respons yang dihitung dan proporsional terhadap kesiapsiagaan keamanan negara. Khairul menjelaskan bahwa status siaga merupakan hal dinamis yang dapat diubah setiap saat sesuai dengan eskalasi kontinjensi di lapangan. Penggunaan satuan siaga operasional harus efisien dan sesuai dengan kebutuhan agar tidak membuang energi prajurit dan logistik. Khairul juga menekankan bahwa penetapan status Siaga 1 sejak awal merupakan langkah yang tepat untuk inspeksi kesiapan personel dan alutsista secara manajerial. Saat status Siaga 3, hanya sepertiga kekuatan pasukan yang disiagakan, sementara pada Siaga 1 kekuatan siaga wajib berada pada 100 persen. Dengan demikian, penetapan status Siaga 1 diperlukan untuk mengecek kesiapan total secara riil dan komprehensif. Setelah tujuan inspeksi tercapai, adalah hal yang wajar untuk kembali ke postur Siaga 3. Penetapan status siaga merupakan langkah yang berbasis pada proporsionalitas ancaman dan doktrin azas penghematan yang ada di tubuh TNI. Manajemen yang terukur mampu memberikan pemahaman kepada publik mengenai kesiagaan negara dalam menangani kondisi darurat, baik secara global maupun nasional. Selain itu, penetapan status Siaga 1 juga bertujuan untuk melihat potret kesiapan maksimal seluruh pasukan TNI secara riil.

