Kementerian Kesehatan mencatat bahwa hingga minggu ke-9 tahun 2026, jumlah kasus campak mencapai 8.716 dengan 10.826 suspek. Pemerintah telah melakukan upaya imunisasi di berbagai daerah sebagai langkah preventif. Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengonfirmasi bahwa terjadi peningkatan sekitar 500 kasus saat ini. Turunnya jumlah suspek dan kasus campak pada minggu ke-9 disebabkan oleh kampanye imunisasi dan edukasi tentang pola hidup sehat.
Di 11 provinsi yang terdampak Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, sebagian besar mengalami penurunan kasus kecuali Provinsi NTB. Data juga menunjukkan bahwa terdapat 10 kabupaten/kota dengan jumlah suspek dan kasus tertinggi, seperti Tangerang Selatan, Bima, Tangerang, dan lainnya. Kementerian Kesehatan telah melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) MR dan Catch Up Immunization (CuC) di beberapa kabupaten dan kota yang membutuhkan.
Imunisasi campak dinyatakan sangat penting untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit tersebut. Orang tua juga diimbau untuk memeriksa status imunisasi balita agar terhindar dari risiko penularan penyakit. Kepedulian dan respons cepat terhadap gejala campak sangat diperlukan, mengingat tingginya tingkat penularan penyakit ini. Imunisasi campak tidak hanya penting untuk menjaga kesehatan individu tetapi juga mencegah penularan ke orang lain.

