Japanese walking sedang naik daun karena menawarkan cara yang sederhana untuk membuat jalan kaki terasa lebih efektif. Metode ini dikenal juga sebagai Japanese interval walking atau Japanese 3×3 walking, dan sempat viral pada 2025. Namun, konsepnya bukan hal baru. Para peneliti di Jepang sudah mengkaji pola ini sejak awal 2000-an, jauh sebelum ramai dibicarakan di media sosial.
Inti Metodenya: Jalan Santai dan Cepat Bergantian
Berbeda dari jalan kaki biasa yang cenderung stabil dari awal sampai akhir, Japanese walking mengandalkan perubahan ritme. Polanya sederhana: berjalan normal selama 3 menit, lalu dipercepat selama 3 menit, dan diulang terus hingga total 30 menit. Kombinasi ini membuat tubuh bekerja lebih aktif tanpa harus masuk ke latihan yang terasa terlalu berat.
Perubahan intensitas tersebut disebut dapat membantu meningkatkan kerja jantung dan otot. Di saat yang sama, bebannya masih tergolong ramah untuk sendi, terutama pinggul dan lutut. Karena itu, metode ini dianggap menarik bagi orang yang ingin bergerak lebih serius tanpa harus langsung melakukan olahraga berdampak tinggi.
Lebih Efektif Dibanding Jalan Kaki Biasa
Menurut Dr. Shawn G. Anthony, dokter bedah ortopedi sekaligus wakil kepala kedokteran olahraga di Mount Sinai Health System, Japanese walking bisa memberi hasil yang lebih baik dibanding jalan kaki dengan kecepatan konstan. Ia menyebut metode ini berpotensi meningkatkan kekuatan, kebugaran, dan tekanan darah secara lebih optimal.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan manfaat lain ketika metode ini dilakukan rutin selama beberapa bulan. Bukan hanya membantu membakar kalori, Japanese walking dikaitkan dengan penurunan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol. Hasil ini membuatnya dilihat sebagai pilihan yang praktis untuk orang yang ingin membangun kebiasaan sehat dengan pola yang mudah diikuti.
Pilihan Menarik Saat Ingin Mulai Bergerak Lagi
Karena polanya jelas dan tidak rumit, Japanese walking relatif mudah diterapkan oleh banyak orang. Metode ini bisa menjadi alternatif bagi mereka yang bosan dengan jalan santai biasa, tetapi belum siap untuk latihan yang lebih intens. Dengan format 3 menit pelan lalu 3 menit cepat, tubuh tetap diajak bekerja, namun masih dalam kendali.
Di tengah tren hidup sehat yang makin ramai, Japanese walking menawarkan pendekatan yang realistis: sederhana, terukur, dan berbasis riset. Bagi yang ingin mencoba sesuatu yang berbeda untuk menjaga kebugaran, metode ini layak dipertimbangkan, termasuk menjelang libur Lebaran 2026.
