Harga Bitcoin kembali tertekan pada perdagangan Kamis pagi setelah pasar bereaksi terhadap arah kebijakan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait konflik dengan Iran. Aset kripto terbesar itu sempat jatuh ke bawah level USD 67.000 dan menyentuh USD 66.770, menandai sentimen risk-off yang kembali mendominasi pasar global.
Pernyataan Trump Picu Kekhawatiran Pasar
Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat berada di jalur yang tepat untuk mencapai seluruh tujuan militernya dalam waktu yang sangat singkat. Ucapan itu, yang dikutip dari Cryptopotato pada Kamis (2/4/2026), langsung dibaca pasar sebagai sinyal bahwa ketegangan dengan Iran belum mereda.
Trump juga menyebut AS hampir tidak lagi mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan bergantung pada jalur itu di masa depan. Namun, alih-alih menenangkan pasar, komentar tersebut justru menambah ketidakpastian karena belum ada tanda de-eskalasi yang jelas.
Pasar Kripto Ikut Tertekan
Tekanan jual tidak hanya menghantam Bitcoin, tetapi juga merembet ke pasar kripto secara lebih luas. Di saat yang sama, saham berjangka ikut melemah, menunjukkan investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Kobeissi Letter menilai pasar seolah-olah sedang mematok harga pada skenario perang Iran yang berpotensi memanjang sekitar sebulan lagi. Menurut pengamatan mereka, situasi ini muncul karena tidak ada pernyataan tegas yang benar-benar menandakan penurunan tensi.
Harga Minyak Jadi Tambahan Beban
Di tengah pelemahan aset berisiko, harga minyak justru kembali melonjak dan menembus di atas USD 100 per barel. Lonjakan ini menambah tekanan pada perekonomian negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, sekaligus memperburuk kekhawatiran pasar terhadap dampak lanjutan konflik.
Gabungan antara ketegangan geopolitik, penguatan harga minyak, dan minimnya sinyal meredanya konflik membuat Bitcoin sulit mempertahankan posisinya di atas level psikologis USD 67.000.
