Di tengah kekhawatiran pasar atas memanasnya situasi di Timur Tengah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pasokan LPG di Indonesia masih dalam kondisi aman. Menurut dia, cadangan LPG nasional masih lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan dalam waktu lebih dari 10 hari.
Pasokan LPG Masih Terkendali
Bahlil menjelaskan, stok LPG Indonesia tidak hanya bergantung pada satu jalur atau satu kawasan tertentu. Pasokan datang dari sejumlah negara, termasuk Australia dan Amerika Serikat, sehingga kondisi di Selat Hormuz tidak langsung memengaruhi ketahanan stok dalam negeri.
Ia menyebut sekitar 70-75 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sekitar 20 persen dari kawasan Timur Tengah, dan sisanya dipasok dari negara lain. Dengan komposisi itu, pemerintah menilai ketersediaan LPG masih relatif aman meski situasi geopolitik belum sepenuhnya stabil.
Dua Kapal Pertamina Masih Dipantau
Selain soal stok, Bahlil juga menyoroti dua kapal Pertamina yang disebut belum bisa melintasi Selat Hormuz. Pemerintah, kata dia, terus berkomunikasi untuk memantau perkembangan dan mencari solusi atas hambatan tersebut.
Ia berharap eskalasi di Timur Tengah bisa mereda dalam dua minggu ke depan sehingga arus logistik energi kembali normal. Meski begitu, pemerintah belum menyampaikan adanya gangguan langsung terhadap pasokan LPG domestik.
Penyesuaian Harga BBM Masih Dikaji
Di sisi lain, Bahlil menyampaikan bahwa harga BBM nonsubsidi juga tengah dihitung ulang. Penyesuaian itu mencakup BBM RON 92, 95, dan 98, serta solar jenis Pertamina Dex.
Menurut dia, pemerintah dan Pertamina akan melihat hasil perhitungan terlebih dahulu sebelum menentukan langkah berikutnya. Dengan begitu, kebijakan harga bisa disesuaikan dengan kondisi pasar dan biaya yang terbentuk saat ini.
