Pecinan Semarang kembali menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar warisan yang dipajang, melainkan sesuatu yang hidup dan bergerak di tengah keramaian kota. Pada Minggu, 12 April 2026, kawasan itu dipenuhi ribuan warga yang menyaksikan kirab budaya dalam rangka HUT ke-160 Kelenteng Ling Hok Bio. Di antara deretan arak-arakan yang panjang dan tertib, atraksi tatung menjadi salah satu bagian yang paling menyita perhatian.
Tatung Menguatkan Nuansa Ritual di Tengah Keramaian
Kehadiran tatung memberi warna yang khas pada kirab budaya di Pecinan Semarang. Sejumlah dukun yang dipercaya kerasukan arwah leluhur tampil dalam rangkaian ritual dan arak-arakan, menghadirkan suasana yang tidak hanya meriah tetapi juga kental dengan unsur spiritual. Momen ini memperlihatkan bahwa perayaan di Ling Hok Bio masih memegang erat tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Di tengah sorak penonton dan padatnya pengunjung, kirab tetap berlangsung tertib. Perpaduan antara ritual, keyakinan, dan kebersamaan terasa menonjol sepanjang jalannya acara.
117 Klenteng Turun dalam Arak-Arakan
Perayaan HUT ke-160 Kelenteng Ling Hok Bio tahun ini diikuti peserta dari 117 klenteng yang datang dari berbagai daerah. Mereka mengarak 160 tandu arca sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan syukur kepada alam dan para leluhur.
Barisan panjang para pemikul tandu berisi patung dewa menjadi gambaran kuat bahwa kirab budaya ini memiliki makna yang lebih besar dari sekadar perayaan tahunan. Bagi para peserta, ini juga menjadi ruang pertemuan antarkomunitas yang masih menjaga ikatan dengan tradisi leluhur.
Kirab yang Menjadi Potret Hidup Tradisi Pecinan
Seluruh rangkaian kirab terekam dalam dokumentasi ANTARA FOTO oleh Makna Zaezar dan tom. Dari padatnya iring-iringan hingga atraksi tatung yang mencuri perhatian, parade budaya ini menunjukkan bagaimana tradisi masih memiliki tempat kuat di tengah kota yang terus berubah.
Perayaan di Pecinan Semarang pun kembali menegaskan posisinya sebagai ruang budaya yang tidak hanya dipandang, tetapi juga dijalani bersama oleh masyarakat yang merawatnya.
