Penjelasan Dokter: Risiko Meningkat Ginjal Anak Gigit Mainan

Kebiasaan anak menggigit mainan mungkin tampak seperti fase normal yang akan lewat dengan sendirinya. Namun, di balik kebiasaan sederhana itu, ada risiko yang mulai mendapat perhatian: paparan mikroplastik. Menurut dokter spesialis anak konsultan I Gusti Lanang Sidiartha, benda yang sering masuk ke mulut anak dapat menjadi salah satu jalur paparan partikel plastik berukuran sangat kecil, yang dalam jangka panjang patut diwaspadai.
Mainan yang Digigit Bisa Jadi Jalur Paparan
Lanang menjelaskan, mainan berbahan plastik termasuk sumber yang paling dekat dengan anak saat mereka bermain. Saat digigit, permukaan benda itu bisa melepaskan partikel mikroplastik yang kemudian ikut tertelan. Mikroplastik sendiri merupakan serpihan plastik berukuran kurang dari 5 milimeter.
Meski sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang secara langsung mengaitkan mikroplastik dengan penyakit ginjal, paparan berulang dinilai tidak bisa disepelekan. Dalam penjelasan Lanang, mikroplastik dapat memicu kerusakan sel usus dan menimbulkan inflamasi, lalu berpotensi berdampak ke organ lain seperti hati, paru-paru, hingga otak.
Risiko Tidak Berdiri Sendiri
Artinya, persoalan ini tidak berhenti pada satu organ tertentu. Paparan kecil yang terjadi terus-menerus bisa menjadi bagian dari akumulasi risiko kesehatan anak. Karena itu, kebiasaan menggigit mainan sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai perilaku wajar pada masa tumbuh kembang, tetapi juga sebagai kebiasaan yang perlu dikendalikan sejak dini.
Paparan Plastik Ada di Sekitar Anak Sejak Awal
Lanang juga mengingatkan bahwa anak sebenarnya sudah berhadapan dengan plastik dalam banyak bentuk sejak lahir. Alas tidur berbahan plastik, peralatan makan plastik, hingga pakaian yang mengandung unsur plastik dapat menjadi sumber paparan mikroplastik sehari-hari.
Karena itu, perhatian orang tua tidak cukup hanya tertuju pada mainan yang sering digigit. Lingkungan dan perlengkapan yang digunakan anak juga perlu dipilih dengan lebih cermat agar paparan yang tidak perlu bisa ditekan. Sumber penjelasan ini merujuk pada keterangan I Gusti Lanang Sidiartha.



