Suaraberita.biz - Berita Terbaru Hari Ini
Portal berita online yang menyajikan update terbaru seputar kriminal, tekno, otomotif, olahraga, kesehatan, wisata, gaya hidup, dan crypto
Kesehatan

Vape Bukan Seaman yang Dikira: 3 Bahaya Menurut Dokter Paru

13 April 2026 • 16:26 WIB

Vape sering dipasarkan dengan citra yang lebih “aman” ketimbang rokok biasa. Uapnya dianggap lebih bersih, aromanya lebih ringan, dan kesannya seolah jadi jalan tengah bagi perokok. Namun, pandangan itu tidak sesederhana yang dibayangkan. Dari kacamata dokter paru, vape tetap menyimpan risiko yang nyata, terutama karena kandungan nikotin dan zat kimia di dalamnya.

Profesor DR. Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, menegaskan bahwa vape bukan alat bebas bahaya. Dalam penjelasannya, penggunaan vape justru bisa menjerat sebagian orang ke pola konsumsi yang lebih rumit, termasuk merokok ganda yang pada akhirnya memperbesar paparan zat berisiko.

1. Nikotin tetap bikin ketagihan

Bahaya paling jelas dari vape ada pada nikotin. Zat ini dikenal memicu adiksi, sehingga pengguna bisa sulit berhenti setelah terbiasa. Menurut Agus, banyak orang yang awalnya memakai vape untuk menggantikan rokok, tetapi kemudian tetap kembali ke rokok konvensional dan akhirnya menggunakan keduanya sekaligus.

Kondisi tersebut disebut dual user. Alih-alih mengurangi risiko, pola ini justru membuat tubuh menerima paparan yang lebih luas dari berbagai zat berbahaya. Dalam situasi seperti ini, vape tidak benar-benar menjadi solusi, melainkan bagian dari masalah yang lebih besar.

2. Cairan vape bisa mengandung zat pemicu kanker

Selain nikotin, cairan vape juga dapat membawa bahan kimia lain yang patut diwaspadai, seperti formaldehida dan asetaldehida. Keduanya tergolong zat karsinogen atau berpotensi memicu kanker. Meski bukti pada manusia masih terus dikaji, hasil studi laboratorium sudah menunjukkan bahwa risiko ini tidak bisa diabaikan begitu saja.

Karena itu, vape tidak layak diperlakukan sebagai produk aman hanya karena cara konsumsinya berbeda dari rokok biasa. Bentuknya boleh berubah, tetapi isi dan dampak biologisnya tetap menyisakan ancaman.

3. Paru dan pembuluh darah ikut terdampak

Agus juga menyoroti efek zat toksik dalam vape terhadap paru-paru dan pembuluh darah. Paparan tersebut dapat memicu peradangan yang berujung pada gangguan pernapasan, mulai dari pneumonia, asma, hingga penyakit paru kronik. Dampaknya tidak selalu terasa langsung, tetapi bisa berkembang perlahan dan menjadi masalah serius di kemudian hari.

Artinya, risiko vape bukan sekadar soal sensasi di tenggorokan atau kebiasaan harian yang tampak sepele. Ada proses kerusakan yang bekerja di balik layar, dan itu bisa berpengaruh pada kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Dalam penjelasan yang disampaikan Profesor Agus Dwi Susanto, pesan utamanya jelas: vape tidak otomatis lebih aman hanya karena tidak dibakar seperti rokok konvensional. Di balik citra modernnya, tetap ada adiksi, zat berbahaya, dan ancaman gangguan paru yang perlu dipahami lebih serius.