Pimpinan MPR: Optimalisasi Naskah Kuno untuk Peningkatan Literasi

Pimpinan MPR: Naskah Kuno Jangan Cuma Disimpan, Harus Hidup untuk Literasi
Jakarta — Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai Perpustakaan Nasional (Perpusnas) perlu melangkah lebih jauh dari sekadar menyelamatkan naskah kuno. Menurut dia, warisan tulisan Nusantara tidak cukup hanya dijaga di ruang arsip, tetapi harus dihadirkan kembali sebagai sumber pengetahuan yang benar-benar bisa dimanfaatkan publik.
Lestari, yang akrab disapa Rerie, melihat naskah kuno sebagai jejak panjang tradisi intelektual bangsa. Karena itu, pelestarian akan kehilangan daya guna bila tidak disertai upaya membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat, terutama untuk kebutuhan belajar dan penguatan literasi.
Naskah Nusantara Punya Nilai Lebih dari Sekadar Koleksi
Menurut Rerie, potensi Perpusnas sangat besar dalam mendorong minat baca dan memperluas wawasan masyarakat. Namun, potensi itu hanya akan terasa jika naskah-naskah kuno tidak berhenti sebagai koleksi yang tersimpan rapi, melainkan juga diolah menjadi bahan pembelajaran yang mudah dijangkau.
Ia merujuk data internal Perpusnas yang menunjukkan total koleksi naskah nasional mencapai 143.259 eksemplar. Dari jumlah itu, baru 13.318 naskah yang tersimpan, sementara yang telah didigitalisasi baru 7.987 naskah.
Target Penyelamatan Turun di Tengah Efisiensi Anggaran
Rerie juga menyoroti turunnya target penyelamatan naskah akibat efisiensi anggaran. Jika semula ditetapkan 10.300 naskah, kini targetnya turun menjadi 2.165 naskah. Baginya, kondisi ini menunjukkan bahwa pelestarian naskah tidak bisa diperlakukan hanya sebagai urusan administratif atau sekadar memenuhi angka kerja.
Ia menekankan, penyelamatan naskah harus dibarengi dengan strategi agar isi naskah bisa diakses lebih mudah oleh masyarakat. Tanpa itu, upaya pelestarian berisiko berhenti pada penyimpanan fisik semata dan tidak memberi dampak nyata bagi penguatan literasi nasional.
Merawat Warisan Intelektual Agar Tetap Berguna
Dalam pandangan Rerie, naskah kuno menyimpan kearifan lokal yang masih relevan untuk menjawab tantangan pembangunan masa depan. Karena itu, Perpusnas perlu memandang pelestarian sebagai bagian dari proses yang lebih besar: menjaga warisan intelektual sekaligus memastikan isinya tetap hidup di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, merawat naskah kuno berarti juga merawat akal budi bangsa. Jika dikelola dengan baik, naskah Nusantara dapat menjadi jembatan antara pengetahuan masa lalu dan kebutuhan literasi masa kini, sehingga tidak hanya tersimpan sebagai sejarah, tetapi juga aktif memberi manfaat.
Berdasarkan keterangan yang disampaikan Rerie, arah kebijakan pelestarian naskah semestinya tidak berhenti pada penyelamatan fisik, melainkan bergerak ke pemanfaatan yang lebih luas agar warisan tulisan Nusantara benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.



