Crypto

Bursa Kripto Grinex Menangguhkan Operasi Pasca Serangan Siber

Bursa Kripto Grinex Setop Layanan Usai Diserang Siber, Aset Rp 1 Miliar Raib

Jakarta — Bursa kripto Grinex, yang disebut memiliki kaitan dengan Rusia, menghentikan operasinya setelah mengalami serangan siber pada Kamis, 16 April 2026. Dalam insiden itu, aset senilai 1 miliar rubel atau sekitar USD 13,10 juta dilaporkan hilang.

Grinex Klaim Jadi Target Serangan Terkoordinasi

Melalui pernyataan di saluran Telegram resminya, Grinex menuding adanya keterlibatan “badan intelijen asing” dari negara-negara yang dianggap tidak bersahabat. Namun, klaim tersebut belum bisa diverifikasi secara independen. Reuters juga menyebut belum dapat memastikan kebenaran tuduhan itu.

Riwayat Sanksi dan Sorotan atas A7A5

Nama Grinex sebelumnya sudah berada dalam pengawasan setelah dikenai sanksi oleh Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Eropa pada tahun lalu. Bursa ini dilaporkan membantu pelanggan menghindari sanksi dengan memanfaatkan stablecoin berbasis rubel Rusia bernama A7A5. Kondisi itu membuat Grinex kerap disebut sebagai salah satu jalur alternatif dalam ekosistem kripto Rusia.

Kripto Jadi Jalur Alternatif di Tengah Tekanan Barat

Rusia sendiri telah membangun infrastruktur kripto yang lebih maju untuk mendukung perdagangan luar negeri, terutama setelah terputus dari sistem pembayaran internasional SWIFT. Di tengah situasi itu, serangan terhadap Grinex menambah tekanan baru pada jaringan aset digital yang selama ini dipakai untuk menjaga arus transaksi tetap berjalan.

Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa pasar kripto bukan hanya berisiko dari sisi harga, tetapi juga rentan terhadap serangan siber dan persoalan kepatuhan. Seperti biasa, setiap keputusan investasi tetap perlu didahului riset yang matang dan pertimbangan risiko secara menyeluruh.

Sumber: Reuters