Di tengah meningkatnya tantangan sosial dan derasnya arus penyalahgunaan teknologi, keluarga kembali ditempatkan sebagai garis pertahanan paling awal. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menegaskan bahwa penguatan delapan fungsi keluarga bukan sekadar program seremonial, melainkan langkah penting untuk mencegah kekerasan seksual dan berbagai persoalan yang mengancam anak maupun orang tua.
Delapan Fungsi Keluarga Jadi Benteng Awal
Kepala BKKBN Wihaji menyampaikan bahwa delapan fungsi keluarga memiliki peran besar sebagai penopang ketahanan keluarga di masyarakat. Fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan dinilai perlu terus dihidupkan agar keluarga tidak rapuh menghadapi perubahan zaman.
Menurut Wihaji, penguatan keluarga tidak cukup hanya dengan pendekatan logis dan administratif. Ada kebutuhan untuk menyentuh sisi emosional dan nilai-nilai dasar di dalam rumah tangga, agar keluarga benar-benar menjadi ruang aman bagi anak sekaligus orang tua.
Gempita Lentera Keluarga Dorong Perubahan Perilaku
Untuk memperkuat agenda tersebut, Kemendukbangga/BKKBN meluncurkan Gerakan dalam Mendorong Perubahan Perilaku Masyarakat Untuk Menuju Indonesia Tangguh melalui Pendekatan 8 Fungsi Keluarga atau Gempita Lentera Keluarga. Program ini dirancang sebagai sarana komunikasi, informasi, dan edukasi keluarga berbasis siklus kehidupan.
Fokusnya mencakup kesehatan, pengasuhan, dan relasi setara di dalam keluarga. Dengan pendekatan itu, pemerintah berharap perubahan perilaku tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi benar-benar masuk ke praktik sehari-hari di rumah dan lingkungan sekitar.
Kolaborasi dan Pendampingan Jadi Kunci
Dalam pelaksanaannya, Gempita Lentera Keluarga mengandalkan sejumlah strategi, mulai dari perubahan perilaku bertahap, berbasis keluarga dan komunitas, hingga penguatan peran kader sebagai agen perubahan. Pendekatan yang dipakai juga disesuaikan dengan konteks budaya lokal agar lebih mudah diterima masyarakat.
Selain itu, program ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, pendampingan keluarga sasaran, dan penguatan lingkungan sosial. Seluruh rangkaian tersebut diarahkan untuk membangun keluarga yang lebih tangguh, sekaligus mempersempit ruang bagi terjadinya kekerasan seksual di lingkungan terdekat.
