Suaraberita.biz - Berita Terbaru Hari Ini
Portal berita online yang menyajikan update terbaru seputar kriminal, tekno, otomotif, olahraga, kesehatan, wisata, gaya hidup, dan crypto
Lainnya

Pemahaman Mendalam Jadi Senjata Hadapi Ancaman Perang Dunia

25 April 2026 • 11:31 WIB

Dalam beberapa bulan terakhir, kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya perang dunia mencuat di jagat maya dan juga menjadi bahan diskusi di berbagai kalangan, khususnya anak muda. Fenomena kecemasan kolektif ini mendorong Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek menggelar diskusi IR Youth Talks#1 sebagai respons atas situasi global yang semakin dinamis dan tidak pasti.

Acara yang bertempat di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP Universitas Indonesia pada 21 April 2026 ini menjadi ajang terbuka untuk menggali berbagai sudut pandang mengenai posisi Indonesia dalam konstelasi politik internasional. Topik diskusi kali ini menyoroti bagaimana Indonesia harus berperan di tengah perubahan geopolitik dunia yang terus bergejolak.

Diskusi perdana dibuka oleh Anggy Pasaribu, jurnalis sekaligus pendiri “Story of Anggy” dan alumni Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan. Anggy tidak langsung memberikan jawaban pasti atas isu perang dunia, melainkan justru merangsang peserta untuk mempertimbangkan secara kritis dasar dari segala kekhawatiran tersebut.

Ia mengajak peserta bersikap lebih rasional dalam memandang berita-berita soal konflik global, agar tidak terperangkap dalam arus opini yang belum tentu berdasar kuat. Anggy menilai, ketenangan berpikir justru mampu membantu generasi muda memilah mana informasi aktual dan mana yang sekadar rumor tanpa pijakan.

Menanggapi diskusi, Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso selaku Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI mengajak peserta untuk lebih menekankan kesiapsiagaan nasional dibandingkan menebak-nebak kapan munculnya perang dunia. Ia menyampaikan bahwa perhatian utama generasi muda selayaknya diarahkan pada penguatan sistem pertahanan negara dalam menghadapi kemungkinan munculnya krisis global yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Menurut Aloysius, penting bagi Indonesia untuk memilah ancaman nyata dan memperkuat ketahanan domestik, mengingat tantangan global kian kompleks. Ia juga menguraikan peran Lemhannas dalam memetakan risiko dan kerentanan nasional melalui metode net assessment dan simulasi skenario, sehingga negara siap dalam menghadapi gangguan baik energi maupun pangan akibat gejolak luar negeri.

Ia menegaskan, posisi strategis Indonesia di kawasan Indo-Pasifik membuat negeri ini sangat rentan terhadap dinamika internasional, mulai dari ketergantungan pada komoditas impor, sampai pada potensi efek domino dari konflik antarnegara besar. Hal ini menuntut kesiapan dalam mengantisipasi ketidakpastian yang bersifat lintas sektor, termasuk keamanan dan ekonomi, serta meneguhkan nilai Pancasila sebagai pondasi utama kekuatan bangsa.

Sebagai landasan ideologis, Pancasila dikatakan oleh Aloysius menjadi penentu kuat tidaknya bangsa dalam bertahan di tengah tekanan global; fondasi ideologi yang kukuh akan memperkokoh persatuan sosial dan mencegah bangsa tergoyahkan oleh dinamika eksternal.

Pandangan berbeda datang dari Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, yang menilai bahwa dunia saat ini mengalami transformasi sistemik, bukan sekadar menuju konflik global terbuka. Ia memandang krisis yang sekarang terjadi, mulai dari ekonomi, energi, maupun geopolitik, saling memberi pengaruh dan memperumit peta hubungan antarnegara, namun tidak serta-merta akan membawa kita ke perang dunia.

Broto juga menyebut bahwa faktor-faktor seperti kebijakan Donald Trump mempercepat kemunculan ketidakpastian baru dalam sistem internasional, sehingga negara seperti Indonesia harus terus berinovasi dalam strategi kebijakan luar negeri. Ia mengenalkan konsep resilience-based hedging, yaitu kemampuan untuk membangun daya tahan domestik dan fleksibilitas diplomasi dalam menanggapi tantangan global.

Dengan strategi tersebut, Indonesia diharapkan mampu tetap relevan dalam percaturan internasional, serta mampu menyerap efek krisis global seefektif mungkin tanpa kehilangan stabilitas dalam negeri.

IR Youth Talks#1 menjadi wahana untuk membangun jejaring serta kolaborasi antara para akademisi, pembuat kebijakan, dan mahasiswa dari enam kampus anggota AIHII Jabodetabek, yakni Universitas Indonesia, Universitas Pertamina, Universitas Bina Nusantara, Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur. Jeanne Francoise, dosen Hubungan Internasional dari President University, menegaskan pentingnya forum lintas kampus ini untuk memperkuat literasi isu global di kalangan mahasiswa.

Ia meyakini, pemahaman terhadap dinamika hubungan internasional menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda yang nantinya akan menghadapi dampak langsung perubahan global.

Menutup diskusi, Anggy sekali lagi menekankan pentingnya ruang dialog yang berkualitas dan etis. Ia mengingatkan, penyampaian kritik atas isu publik harus tetap dalam batas sopan santun serta berada pada forum yang tepat guna menghasilkan perubahan yang konstruktif.

Baginya, keterlibatan anak muda dalam memahami dan merespons isu global tidak harus agresif, melainkan dapat dimulai dari memperkaya pengetahuan serta membangun narasi positif dalam berbagai diskusi. Ia menutup dengan pesan, walaupun masa depan global penuh ketidakpastian, namun kesiapan dan kemampuan berpikir kritis adalah senjata terbaik untuk menghadapi segala kemungkinan.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko