Kesehatan

Risiko Paling Sering Diremehkan Saat Naik KRL

Kesehatan dan Keselamatan dalam Rutinitas Naik KRL

Jakarta – Kehidupan jutaan masyarakat Jabodetabek tak lepas dari rutinitas naik KRL setiap hari. Namun, di balik kesibukan tersebut, terdapat risiko kesehatan dan keselamatan yang seringkali terabaikan. Hal ini ditegaskan oleh Ketua HCC Indonesia, Dr. Ray Wagiu Basrowi, yang menyoroti dampak negatif dari kegiatan komuter harian.

Pentingnya Kesehatan dan Keselamatan

Menurut Dr. Ray, perjalanan harian dengan KRL dapat berdampak langsung pada tekanan darah, hormon stres, kualitas tidur, kesehatan mental, dan produktivitas kerja seseorang. Komuter yang mengalami kelelahan kronis cenderung rentan terhadap berbagai penyakit, sulit berkonsentrasi, dan berisiko mengalami kecelakaan.

Salah satu risiko besar yang dihadapi adalah kurang tidur akibat harus bangun pagi untuk menghindari kepadatan KRL. Kondisi ini dapat mengakibatkan penurunan kualitas tidur, konsentrasi, dan refleks, meningkatkan risiko terjadi kecelakaan.

Bahaya Dehidrasi dan Postur Tubuh

Dehidrasi sering kali terjadi tanpa disadari, karena banyak penumpang KRL membatasi konsumsi air demi menghindari ke toilet. Padahal, kekurangan cairan dapat menyebabkan pusing, lemas, jantung berdegup cepat, dan menurunkan fokus saat bekerja.

Sedangkan, postur tubuh yang tidak baik karena berdiri terlalu lama dan membawa beban berat dapat menimbulkan nyeri pada tubuh, seperti leher, pinggang, dan lutut. Kondisi ini jika terus berlanjut dapat berkembang menjadi masalah muskuloskeletal yang umum terjadi pada pekerja perkotaan.

Selain masalah fisik, kondisi KRL yang padat juga meningkatkan risiko psikologis dan emosional. Desakan penumpang dapat menyebabkan sesak napas, kehilangan keseimbangan, hingga panic attack. Selain itu, stres akibat keterlambatan, kebisingan, dan kekhawatiran terlambat kerja juga dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental komuter.

Source link