Suaraberita.biz - Berita Terbaru Hari Ini
Portal berita online yang menyajikan update terbaru seputar kriminal, tekno, otomotif, olahraga, kesehatan, wisata, gaya hidup, dan crypto
Kesehatan

Anak Masuk SD Tanpa Kesiapan, Dampak Buruk yang Mungkin Terjadi

11 July 2024 • 13:51 WIB

Anak Masuk SD Tanpa Kesiapan, Ini Risiko yang Sering Diabaikan

Memasukkan anak ke sekolah dasar tidak cukup hanya berpatokan pada usia. Meski rentang umum masuk SD berada di kisaran 6 hingga 7 tahun, kesiapan tiap anak bisa sangat berbeda. Di titik inilah banyak orang tua kerap keliru: mengejar usia, tetapi mengabaikan kematangan mental, emosional, dan sosial anak. Akibatnya, sekolah yang seharusnya menjadi ruang tumbuh justru berubah menjadi sumber tekanan.

Kesiapan Anak Lebih Penting daripada Sekadar Umur

Psikolog Samanta Elsener menegaskan, anak yang belum siap namun dipaksakan masuk SD berisiko mengalami dampak yang tidak ringan. Salah satunya, anak bisa menjadi malas belajar karena merasa terbebani. Situasi ini juga dapat memunculkan tekanan psikologis yang membuat proses adaptasi di sekolah terasa lebih berat.

Dari sisi orang tua, tanda-tandanya biasanya muncul lewat laporan guru. Prestasi belajar anak bisa tampak kurang maksimal, sementara keluhan terkait perilaku atau kemampuan mengikuti pelajaran mulai sering terdengar. Kondisi ini bukan semata soal kecerdasan, melainkan kesiapan anak menghadapi ritme belajar formal.

Psikotes Bisa Menjadi Pintu Awal Penilaian

Untuk mengetahui apakah anak sudah layak masuk SD, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui psikotes. Menurut Samanta, yang perlu diperhatikan bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga perkembangan psikososial anak. Jika hasil psikotes menunjukkan anak mampu mengikuti proses belajar di sekolah dasar, maka masuk SD pada usia 6 tahun bisa dipertimbangkan.

Namun jika hasilnya belum mendukung, psikolog umumnya tidak akan merekomendasikan anak untuk buru-buru masuk SD. Penilaian ini penting agar anak tidak langsung dihadapkan pada tuntutan yang belum sanggup ia jalani.

Jika Tetap Masuk Lebih Awal, Persiapan Harus Lebih Serius

Samanta menyarankan, bila orang tua tetap memilih memasukkan anak ke SD sebelum waktunya, maka persiapan ekstra wajib dilakukan. Anak perlu diberi pemahaman tentang lingkungan baru yang akan dihadapi, mulai dari aturan sekolah, cara berinteraksi, hingga kebiasaan belajar bersama.

Ia juga menekankan pentingnya stimulasi sosial. Anak sebaiknya dibiasakan berinteraksi dengan banyak orang agar lebih mudah berbaur. Bentuknya bisa sederhana, seperti mengajak bermain dengan dua atau tiga teman, lalu perlahan membiasakan diri bermain dalam kelompok yang lebih besar. Langkah-langkah kecil seperti ini dapat membantu anak lebih siap saat memasuki dunia sekolah yang jauh lebih ramai dan menuntut kemandirian.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.